Mahasiswa Sastra Inggris FBS Unesa Pentaskan 12 Drama sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah
Mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya menampilkan 12 pementasan drama sebagai bagian dari tugas akhir mata kuliah. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana pembelajaran sastra di kampus tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga pada praktik pertunjukan.
Surabaya — Mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (FBS Unesa) mempresentasikan 12 drama sebagai tugas akhir mata kuliah. Informasi ini dilaporkan oleh unesa.ac.id, yang menyoroti kegiatan akademik yang menggabungkan studi sastra dengan praktik pementasan.
Pementasan tersebut menunjukkan bahwa mata kuliah sastra Inggris di lingkungan kampus tidak semata-mata berfokus pada pembacaan teks, tetapi juga pada cara teks dihidupkan di atas panggung. Dalam konteks pembelajaran, bentuk tugas seperti ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk menerjemahkan pemahaman mereka terhadap drama ke dalam unsur akting, dialog, dan penataan pertunjukan.
Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan pendidikan sastra, kegiatan ini penting karena menggambarkan arah pengajaran yang menekankan pengalaman langsung. Drama sebagai genre memiliki ciri khas yang berbeda dari puisi atau prosa: ia ditulis untuk dipentaskan, sehingga proses belajar sering kali menuntut kemampuan interpretasi sekaligus kolaborasi antarmahasiswa.
Jumlah naskah yang dipentaskan—12 drama—juga menunjukkan skala tugas yang cukup besar untuk satu mata kuliah. Dari perspektif akademik, pementasan sebanyak itu mengisyaratkan adanya pembagian kerja yang tidak ringan, karena setiap kelompok atau peserta harus menyiapkan unsur kreatif dan teknis agar pertunjukan dapat berjalan sebagai bagian dari penilaian akhir.
Dalam kerangka yang lebih luas, kegiatan seperti ini relevan bagi dunia literatur dan pendidikan karena memperlihatkan bagaimana karya drama dapat dipahami bukan hanya sebagai bacaan kelas, melainkan sebagai bentuk seni pertunjukan. Mahasiswa tidak hanya mempelajari struktur teks, tetapi juga bagaimana karakter, konflik, dan dialog bekerja ketika dipentaskan di depan penonton.
UNESA melalui FBS tampak mendorong model pembelajaran yang menghubungkan analisis sastra dengan praktik kreatif. Pendekatan ini sejalan dengan karakter kajian sastra Inggris yang kerap menempatkan interpretasi, ekspresi, dan produksi sebagai bagian saling melengkapi dalam proses belajar.
Meski laporan yang tersedia tidak memuat rincian lebih jauh mengenai judul-judul drama, susunan penampil, atau respons penonton, pementasan 12 drama tersebut sudah cukup menunjukkan bahwa tugas akhir mata kuliah di program studi ini dirancang untuk memberi pengalaman yang dekat dengan praktik seni. Bagi mahasiswa, kegiatan semacam ini dapat menjadi bekal penting untuk memahami bagaimana teks drama berubah menjadi pertunjukan yang hidup.