HISKI UAD Dorong Penguatan Literasi Sastra dalam Penyusunan Soal TKA
LLDIKTI Wilayah V melaporkan bahwa HISKI UAD mendorong penguatan literasi sastra sebagai bagian dari penyusunan soal TKA. Inisiatif ini menegaskan peran kajian sastra dalam memperkaya kualitas asesmen dan memperluas perhatian pada kemampuan membaca teks sastra secara lebih serius.
LLDIKTI Wilayah V melaporkan langkah HISKI UAD yang mendorong penguatan literasi sastra dalam penyusunan soal TKA. Pokok gagasan ini menempatkan sastra bukan sekadar materi pelengkap, melainkan bagian penting dari kecakapan literasi yang perlu diperhatikan dalam proses penyusunan asesmen.
Mengapa literasi sastra dibahas
Dorongan tersebut menunjukkan adanya perhatian bahwa soal TKA tidak hanya membutuhkan kemampuan memahami teks secara umum, tetapi juga kecakapan membaca, menafsirkan, dan merespons teks sastra dengan lebih cermat. Dalam konteks pendidikan bahasa dan literasi, sastra sering dipakai untuk menguji kepekaan makna, daya nalar, serta kemampuan membaca lapis-lapis bahasa yang tidak selalu hadir dalam teks faktual.
Bagi dunia pendidikan dan penyusunan soal, penekanan pada literasi sastra penting karena kualitas asesmen ikut ditentukan oleh jenis teks dan cara pertanyaan disusun. Jika literasi sastra diperkuat, soal berpeluang mendorong peserta untuk tidak hanya mencari jawaban langsung, tetapi juga memahami konteks, simbol, dan pengalaman estetik yang dibangun oleh teks.
Relevansi bagi penyusunan asesmen
Langkah yang dilaporkan oleh LLDIKTI Wilayah V ini juga relevan bagi para penyusun soal karena menunjukkan bahwa keterampilan literasi sebaiknya dipahami secara luas. Sastra menghadirkan ragam bentuk bahasa yang dapat melatih ketelitian, penalaran, dan kemampuan menghubungkan isi teks dengan pengalaman membaca yang lebih mendalam.
Dalam praktik penyusunan soal TKA, penguatan literasi sastra dapat membantu memperkaya variasi materi dan pendekatan penilaian. Hal ini berpotensi menjadikan soal lebih menantang secara intelektual sekaligus lebih representatif terhadap kemampuan literasi yang kompleks.
Konteks kebudayaan dan akademik
Keterlibatan HISKI UAD juga penting dibaca dalam konteks akademik yang lebih luas. HISKI sebagai organisasi yang berkaitan dengan kajian sastra membawa perspektif keilmuan ke ruang pendidikan, sementara UAD menjadi ruang pengembangan gagasan tersebut. Kombinasi ini memperlihatkan bahwa pembahasan soal TKA tidak hanya berkaitan dengan teknis evaluasi, tetapi juga dengan kualitas isi yang diuji kepada peserta.
Bagi pembaca, terutama di lingkungan pendidikan tinggi dan pengajaran bahasa, kabar ini menandakan bahwa literasi sastra masih dipandang strategis. Di tengah kebutuhan asesmen yang makin menuntut ketepatan dan kedalaman, sastra dapat berfungsi sebagai jembatan untuk menguji kemampuan interpretatif sekaligus apresiasi bahasa.
Apa yang mungkin menyusul
Berdasarkan laporan yang tersedia, belum ada rincian lanjutan mengenai bentuk implementasi, format soal, atau tahapan berikutnya. Namun, dorongan untuk memperkuat literasi sastra dalam penyusunan soal TKA membuka kemungkinan adanya pembahasan lebih lanjut tentang pemilihan teks, indikator penilaian, dan cara mengintegrasikan sastra ke dalam instrumen asesmen.
Yang jelas, laporan LLDIKTI Wilayah V ini menegaskan bahwa pembicaraan mengenai TKA tidak berhenti pada hasil akhir ujian. Proses di balik penyusunan soal, termasuk penentuan materi berbasis sastra, menjadi bagian penting dari upaya menjaga mutu penilaian dan memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan.