Yozi Rizal Soroti Sastra yang Masih Dipandang Sebelah Mata Saat Bengkel Sastra Dibuka Kepala Balai Bahasa
Bengkel Sastra yang dibuka oleh Kepala Balai Bahasa menjadi ruang baru bagi pembicaraan tentang posisi sastra di tengah perhatian pemerintah. Dalam acara itu, Yozi Rizal menilai sastra masih kerap dipandang sebelah mata.
Bengkel Sastra yang dibuka oleh Kepala Balai Bahasa menjadi penanda dimulainya sebuah forum yang tidak hanya menyoroti karya, tetapi juga posisi sastra di hadapan kebijakan publik. Menurut laporan inilampung.com, dalam kegiatan tersebut Yozi Rizal menyampaikan pandangan bahwa sastra masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah.
Pernyataan itu penting karena menempatkan sastra bukan sekadar sebagai urusan estetika, melainkan juga bagian dari ekosistem kebudayaan yang membutuhkan perhatian lebih serius. Di tengah arus perhatian publik yang kerap lebih besar pada sektor lain, suara seperti ini mengingatkan bahwa sastra tetap memiliki fungsi sosial: membentuk cara pandang, merekam pengalaman masyarakat, dan menjaga keberlanjutan tradisi literasi.
Pembukaan bengkel oleh Kepala Balai Bahasa juga memperlihatkan bahwa lembaga bahasa masih menjadi salah satu pintu resmi bagi penguatan kegiatan kesastraan. Meski informasi rinci tentang isi agenda tidak disebutkan dalam materi yang tersedia, kehadiran pejabat lembaga bahasa memberi sinyal bahwa sastra masih diposisikan sebagai bagian dari kerja kebudayaan yang terkait erat dengan bahasa, pendidikan, dan pembinaan publik.
Ucapan Yozi Rizal mengenai kurangnya perhatian pemerintah terhadap sastra sejalan dengan keluhan yang kerap muncul di dunia literasi: kegiatan sastra sering hidup berkat inisiatif komunitas, bukan karena dukungan yang berkelanjutan. Karena itu, bengkel semacam ini bukan hanya ajang pembelajaran, tetapi juga ruang advokasi agar sastra tidak berhenti sebagai simbol, melainkan memperoleh tempat yang lebih nyata dalam kebijakan kebudayaan.