Lewati ke konten utama
C
CREATELIBREBERKREASI BEBAS
⌕
JelajahiBukuApa yang dibaca?Berita Sastra DuniaPersahabatan BukuRuang bukuEbookBuku audioStudio kreatifAhli
MasukBergabung
C
CREATELIBREBERKREASI BEBAS
Bahasa
Jelajahi CreateLibre
⌕Jelajahi›▥Buku›↗Apa yang dibaca?›✦Berita Sastra Dunia›♡Persahabatan Buku›◌Ruang buku›▤Ebook›▶Buku audio›✦Studio kreatif›◇Ahli›
MasukBergabung
← Kembali ke Berita Sastra Dunia
Sastra

Yozi Rizal Soroti Sastra yang Masih Dipandang Sebelah Mata Saat Bengkel Sastra Dibuka Kepala Balai Bahasa

Bengkel Sastra yang dibuka oleh Kepala Balai Bahasa menjadi ruang baru bagi pembicaraan tentang posisi sastra di tengah perhatian pemerintah. Dalam acara itu, Yozi Rizal menilai sastra masih kerap dipandang sebelah mata.

inilampung.com25 Agustus 2026 pukul 15.31

Bengkel Sastra yang dibuka oleh Kepala Balai Bahasa menjadi penanda dimulainya sebuah forum yang tidak hanya menyoroti karya, tetapi juga posisi sastra di hadapan kebijakan publik. Menurut laporan inilampung.com, dalam kegiatan tersebut Yozi Rizal menyampaikan pandangan bahwa sastra masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah.

Pernyataan itu penting karena menempatkan sastra bukan sekadar sebagai urusan estetika, melainkan juga bagian dari ekosistem kebudayaan yang membutuhkan perhatian lebih serius. Di tengah arus perhatian publik yang kerap lebih besar pada sektor lain, suara seperti ini mengingatkan bahwa sastra tetap memiliki fungsi sosial: membentuk cara pandang, merekam pengalaman masyarakat, dan menjaga keberlanjutan tradisi literasi.

Pembukaan bengkel oleh Kepala Balai Bahasa juga memperlihatkan bahwa lembaga bahasa masih menjadi salah satu pintu resmi bagi penguatan kegiatan kesastraan. Meski informasi rinci tentang isi agenda tidak disebutkan dalam materi yang tersedia, kehadiran pejabat lembaga bahasa memberi sinyal bahwa sastra masih diposisikan sebagai bagian dari kerja kebudayaan yang terkait erat dengan bahasa, pendidikan, dan pembinaan publik.

Ucapan Yozi Rizal mengenai kurangnya perhatian pemerintah terhadap sastra sejalan dengan keluhan yang kerap muncul di dunia literasi: kegiatan sastra sering hidup berkat inisiatif komunitas, bukan karena dukungan yang berkelanjutan. Karena itu, bengkel semacam ini bukan hanya ajang pembelajaran, tetapi juga ruang advokasi agar sastra tidak berhenti sebagai simbol, melainkan memperoleh tempat yang lebih nyata dalam kebijakan kebudayaan.

Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan tersebut relevan bagi para pelaku literasi, pendidik, dan pembaca. Jika sastra terus dipandang sebagai pelengkap, maka ruang bagi penulis, pembaca, dan pekerja budaya untuk berkembang bisa semakin sempit. Sebaliknya, bila perhatian terhadap sastra diperkuat, dampaknya dapat terasa pada kualitas literasi masyarakat dan keberagaman ekspresi budaya.

Laporan inilampung.com tidak memuat rincian lanjutan mengenai langkah yang akan diambil setelah bengkel dibuka. Namun, tema yang muncul dari kegiatan ini jelas: masih ada kebutuhan untuk memperjuangkan tempat sastra di hadapan negara dan publik, sekaligus memastikan bahwa kegiatan pembinaan sastra tidak berhenti pada seremoni pembukaan saja.

Ringkasan mandiri CreateLibre ini berdasarkan sumber yang ditautkan di bawah.

CreateLibre tidak menerbitkan ulang laporan berhak cipta secara penuh. Teks terbuka atau berlisensi ditandai.

Buka sumber asli ↗news.google.com
Berita sastra lainnya
SastraKompasiana Soroti Alih Wahana AI Tahap Ke-4 dalam Sastra yang “Bernapas”→SastraYozi Rizal, Politisi yang Dikenal Menyukai Sastra→Sastra20 Peserta Bengkel Sastra Bersiap Terbitkan Buku Puisi Dwibahasa→
C
CREATELIBREBERKREASI BEBAS

Komunitas kreatif tempat cerita ditulis, dibaca, didengar, dan diterbitkan secara profesional.

JelajahiBooksEbooksAudiobooksBerita Sastra DuniaTerbitkanAhliKeanggotaan
Privasi & cookiePerjanjian penggunaPerjanjian penjualan jarak jauhPengaturan cookie
●Koneksi amanDilindungi enkripsi HTTPS dan SSL/TLS
Kartu pembayaran
VISAmastercardtroy
© 2026 CreateLibre · Hak cipta dilindungi.